Another Sweet June

AZIZHADI.COM, Ketika aku menceritakan ini, rasanya seperti ditarik kembali ke 10 tahun yang lalu, dimana saat itu aku masih duduk dikelas 1 SMP, masa dimana masih belum mengenal sama sekali dunia maya, justru saat itu malah berkenalan dengan yang namanya mesin sepeda motor seperti anak alay yang suka kebut kebutan, sambil rambut yang tak pernah sampoan, serta dompet yang diberi rantai lengkap dengan uang 5000 dan kumpulan puisi yang pernah aku buat, tujuannya sih supaya terlihat tebal gitu dompetnya, tapi entahlah sampai saat ini dompetku juga masih tebal dengan kertas putih yang bedanya saat ini bukan puisi yang ada didompet melainkan cicilan utang dan bon yang nyasar *ahhh*.

Oke, cukup mungkin seperti itu hinanya aku ketika SMP, iya SMP, sepertinya masa itu adalah masa yang indah, karena sampai saat ini aku tidak bisa lepas dari teman SMP, masa dimana akhirnya aku berani untuk nembak cewek, entah itu nembak atau bukan, yang jelas aku pernah naik ayunan berdua dengan dia sambil menggunakan celana warna orange panjangnya gak sampai mata kaki tapi melebihi dengkul, kemudian hanya menggunakan kaos oblong bertuliskan dagadu, dan menggunakan gelang warna hitam berbahan kain yang kalau mandi gak pernah dilepas, sehingga kalau udah kering biasanya terdapat bekas bekas sabun, sehingga yang dulunya warna hitam, lalu menjadi sedikit keabu-abuan karena sabun, yah itulah, masa dimana aku sudah tidak lagi malu untuk BAB disekolah karena jaman SD dulu masih suka malu gitu kalau BAB disekolah, biasanya nahan sampai gak bisa keluar lalu esoknya sakit perut karena gak bisa BAB dalam sehari, kemudian masa dimana akhirnya aku bertemu putri, iya ini namanya putri beneran, dia bagaikan bidadari yang siap menemani hari hari pertama kali aku masuk SMP, bayangin aja, sekelas bersama putri itu bagaikan mimpi namun tak pernah aku manfaatin kesempatan itu, iya rasanya pengen balik aja kemasa itu, ahh SMP.

Tapi sesuai judul, aku tidak akan menceritakan panjang lebar masa SMP ku yang jika aku ceritakan maka akan menjadi “buku tahunan aziz dimasa smp 1″ namun aku akan lebih fokus untuk menceritakan bagaimana aku bisa jalan lagi sama putri, namun kali ini tidak berdua aja, karena ya itu, dia udah ada yang punya, selain itu dia juga jaga image keluarganya banget, dia tidak boleh keluar diatas jam 19.00, kemudian harus pulang kurang dari jam 22.00, selanjutnya harus jelas keluar kemana, sama siapa aja, bisa ngebayangin aku, jika mau ngajak keluar berduaan dia, sepertinya impossible banget deh kalau mau jemput dirumahnya, kalau mau jemput dirumah, sepertinya aku harus siap bertiga, karena yang satu adalah mamanya, atau kalau engga papanya yang siap membawa shotgun ketika aku berani memegang tangannya, DUARRRR, pecah kepala ku.

Hal itu aku ketahui dari teman dekatnya sih, dan juga tidak semuanya aku ketahui dari teman dekatnya, karena saat itu aku juga tahu kalau putri itu dilindungin banget, mungkin karena dia anak terakhir sehingga harus dijagain, pernah juga ketika saat itu sedang liburan ke jogja, acara saat itu adalah studi tour, waktu itu kelas 1 smp juga sih, jadi masih alay gitu, pakai topi terus baju yang kebesaran karena memang dulu gak pernah kepikiran untuk punya kemeja, kalaupun punya itu adalah kemeja sekolah yang setiap hari dipakai. kemudian pakai celana pendek dan juga pakai kalung, yang lagi lagi adalah berbahan kain yang jika mandi gak pernah dilepas, sehingga ada bercak putih putih gitu ketika kering, yah itulah.

Saat itu dia cepet aja udah punya cowok, haha blak blakan aja deh, lagian dia juga udah putus, dan aku yakin mantannya itu tidak hidup didunia online jadi apa salahnya nulis, haha, Roy, haha sorry bro but this is the life, show must go on right, don’t keep it, just say it, wadah malah bahasa inggris gini, oke oke cukup minta maafnya, lagian kalian juga pasti suka kalau diingatkan gini, masa masa indah ketika pertama kali jadian, ketika kalian saling berboncengan, jalan bareng, tapi pasti saat itu kalian pasti belum bisa berpergian ke Tunjungan Plaza, jadi mungkin main kerumah masing-masing ketemu mama sama papa putri, kemudian digampar pakai pistol, terus akhirnya kalian putus deh. sesingkat itu ya cerita pacaran masa SMP.

Jadi ketika studi tour ke jogja, roy pesan kepada gundiknya untuk menjaga putri, busyet sakti banget ya, udah punya gundik aja ketika smp, nah kebetulan gundiknya itu juga teman dekat ku, jadi sebenarnya gak ada masalah sama gundiknya, tapi yang bikin masalah sebenarnya adalah aku sendiri, kenapa gak dideketin saja ketika dia sedang berada diluar kota hanya bersama teman-temannya dan hanya bersama gundik yang sebenarnya adalah teman kamu sendiri ziz, lagi dan lagi, aku cupu.

Oke, kenapa jadi panjang gini ya, haha, mungkin karena memang terlalu manis untuk dipendekkin, oke singkat cerita, aku dan putri sudah sama sama berumur 23th, bedanya dia udah punya cewek dan aku belum, bedanya lagi saat ini dia tambah cantik dan aku tambah berantakan karena hidup yang semakin menantang untuk bisa bertahan dalam situasi apapun *angkat barbel* dan yang lebih bikin aneh lagi, kenapa dia mau ya jadian dengan seseorang yang namanya roy, terus kenapa ziz, mending roy berani, nah elu?

Udahlah gak usah dibahas, yang penting saat ini cowoknya bukan roy namanya, jadi cerita ini berawal dari sebuah ajakan dari sahabatnya putri, sebut saja karis, karis ini cewek lho, “eh tunggu dulu, jadi ini baru mulai nih ceritanya, iya ga papa ya, kamu baik deh“, ajakan itu berisi kalau dia kangen sama kita kita, sebut aja gerombolan preman saat smp, ada aku, rampok dkk, entah kenapa dia selalu disebut rampok, panggil saja munit yang saat ini lagi kuliah disebuah Universitas Swasta di Surabaya yang katanya sebentar lagi mau jadi negri, tapi ya katanya sih, entah kapan jadinya, jadi munit ini adalah sahabat dari SMP sampai saat ini, dia yang bisa mempertemukan aku dengan putri, iya kalau bukan karena dia, aku gak mungkin bertemu hari ini.

Jadi, ajakan hangout ini sudah lama kepengen diwujudin, tapi ya gitu, adaa aja yang ngehalangin, hingga akhirnya bisa keluar hangout Minggu kemaren, aku gak mau bilang minggu kapan tepatnya yang jelas minggu kemaren, nah kebetulan juga si rampok saat itu ada kegiatan juga dirumahnya, alhasil hampir aja hangout hari itu gagal lagi, padahal tinggal sebentar lagi aku bisa bertemu dengan putri, hurrah, akhirnya selesai juga acara yang membikin pending sementara ketemuan dengan Putri, Rampok udah aku suruh pakai baju seadanya pokoknya pakai baju dah, wangi gak wangi yang penting udah bisa aku culik awakmu, saat itu rasanya bagaikan terpeleset karena ada air yang tergenang di ubin setelah jatoh kemudian kejatohan tai cicak yang kemudian dilanjut adik yang pipis sembarangan karena gak tahu kamar mandi dimana.

Berharap setengah mati, semoga saja acara malam ini jadi dan tidak di cancel, didalem mobil tangan sudah tidak bisa tenang, kaki juga, sehingga mengakibatkan mobil berjalannya tidak rata, karena gemetaran bingung mau apa yang dilakukan jika acara malam ini tidak jadi, akhirnya jalan salah satunya adalah mendengarkan musik dengan beat yang sedikit nge-Rock karena untuk mengimbangi gejala kejang mendadak yang barusan aku alamin. Oke sedikit lagi sampai dirumahnya putri, gejala awal yang terjadi adalah salah tingkah sehingga lupa untuk salam kepada satpam yang menjaga rumahnya, hasilnya adalah mobilku didatangin satpam dan ditanya mau ‘bertemu siapa’ aku jawab dengan santai ‘mau bertemu Putri pak’ sambil mengunyah permen karet, ‘Putri siapa ya?’ jawabnya dengan lantang, seperti bung tomo yang meneriakkan ‘merdeka atoe mati’, ‘putri ini lho pak’ akhirnya mulai panik, sambil bbm karis ‘eh ayo turun, ini udah diinterogasi sama si pak satpam nih’ kemudian rampok turun tangan, karena tampangnya yang memang ditumbuhi banyak kumis dan jenggot yang mirip ahmad dhani, sehingga kita berdua dikira mau maling rumahnya Putri, ‘ohh Putri, putrinya pak Suputra’ akhirnya jawaban yang kami tunggu tunggu keluar, ‘iya betul, putrinya pak Suputra’ jawab Rampok dengan gayanya yang sok cool sambil pegang pegang jenggot yang udah mulai nyambung dengan lehernya, tak berapa lama kemudian Putri turun dengan lantang, sambil membawa galah berhak untuk mengusir pak satpam yang mengangguku dengan rampok, ohh Cyna, tolong kami, tak berapa lama, pak satpam itu pergi karena sudah disuruh perga sama Putri, ohh aku bingung harus ngapain, ohh aku bingung tolong aku, bingung mau nyapa duluan tapi lidah ini gak bisa bicara karena dia makin cantik aja, walaupun pipinya gede tapi ya tetep aja, itu wajah yang original dari SMP sampai saat ini, ‘hi, kalian berdua’ sapanya dengan nada yang begitu lembut namun tetap tegas, oh tidak dia mendekatiku oh tidaaak, pingsan.

Oke, oke aku sudah bisa mengatur nafas untuk bisa tetap tenang menghadapi dia, kesan pertama bertemu dia itu aku anggap biasa aja sih, gak ada yang istimewa, tapi tapi tapi matanya itu, pingsan lagi.

Tak lama kemudian datanglah Karis dan Wanda, mereka ini adalah tiga cewek yang akrab dari SMP, setelah aku perhatiin ternyata wajah mereka tidak banyak berubah, Putri tetap dengan wajah tembebnya, Karis dan Wanda tetap aja dengan wajah SMPnya yang nyebelin, haha damai damai.

Bingung mau kemana karena memang sudah terlalu malam jam 19.00, itu adalah jadwal termalam yang dimiliki Putri untuk bisa keluar dimalam hari, dan bayangkan saja harus bisa balik lagi kerumah Putri yang ada pak satpam yang suka menginterogasi orang yang gak jelas ketika memasuki komplek ini jam 22.00, bayangkan seberapa cepatnya kita memikirkan tujuan malam ini.

Sejenak aku dan Munit ngikut aja kemana tujuan para wanita ini, setelah terjadi hal yang tidak diinginkan, kemudian aku kasih saja pilihan, ‘bagaimana kalau makan sate kelapa saja, sepertinya enak malam malam gini’ jawabku semangat memotong pembicaraan para ibu ibu muda yang bicara nalor ngidul ini, ‘boleh boleh, sate kelapa yang di dharmawangsa aja, itu enak kok’ usul Putri, sekejap dadaku berdegup kencang, mata berkunang kunang mau pingsan, tapi Rampok kemudian membacok pundakku dan aku gak jadi pingsan, ‘oh ya, enak ta’ jawabku pelan, ‘iya enak, kalo kamu biasanya makan yang dimana ziz?’ jawabnya pelan juga, Karis, Wanda, Munit bagaikan obat nyamuk bagiku, karena keasyikan bicara dengan putri, lupa deh, ‘aku biasanya yang di walikota mustajab’ jawabku merendah, ‘oh jangan disitu, gak enak ziz, enak yang di dharmawangsa aja’ jawabnya juga semangat, seakan jika tidak diturutin maka dia ngambek dan tidak jadi keluar, sia sia deh perjuangan malam ini.

Akhirnya, kita berlima berangkat menuju ke Sate Kelapa Dharmawangsa, dengan ijin yang lumayan mulus dari Mama Putri, yang sebelumnya terjadi kejadian aneh, yaitu rampok yang lupa untuk mencuci kaki, sehingga dia berbisik kepadaku, ‘ziz, aku isin iki, ketokane sikilku mambu’, ‘it’s ok mas bro, stay cool aja’ sambil menepuk pundaknya, akhirnya kita masuk kedalam rumah putri yang disana hanya terdapat mama putri dan sedang berada dilantai sambil nonton televisi, putri membuka pembicaraan, dengan harapan, ‘mama, ini Aziz calon Putri’ lagi lagi rampok membacok pundakku, sehingga membuyarkan fantasiku, putri membuka pembicaraan ‘ma, ini Aziz dan Munit teman SMP Putri’, ketika menoleh, aku langsung meihat mimik dari Mama Putri dengan wajah yang sedikit aneh, sambil idungnya mengendus ngendus, mencari bau yang tiba tiba datang pada ruangan yang sebelumnya tenang dengan bau relaksasi kini ruangan itu seperti terserang pasukan yang siap menghancurkan bau relaksasi tersebut, ‘ohhh, kalian kok sudah seperti om om gitu ya, sudah pada punya kumis’ jawab Mama Putri menjaksa, sekejap aku dan rampok bingung harus berkata apa, tapi yang jelas Mama Putri menatap tajam kepadaku, ‘iya tante, kita kan juga sudah termakan usia dan seiring banyaknya kegiatan, hehe hehe heheee’ jawab Rampok cengengesan, mungkin karena dia merasa harus cepat pergi dari ruangan yang sudah terjajah dengan bau kaki yang sudah merajalela, ‘hehee hehee heheee… iya tante’, aku juga semakin merasa bingung dengan tatapan Mama Putri yang daritadi menatap sedikit aneh kepadaku. Setelah keluar dari ruangan relaksasi yang kini mejadi ruangan penyiksaan sementara, akhirnya aku tersadar kenapa tatapan mata mama putri bisa sedemikian tajam, mungkin karena aku yang memakai kaos kaki ketika memasuki ruangan relaksasi dan Munit yang tidak memakai alas kaki, sehingga aku menjadi sasaran utama kenapa ruangan relaksasi tersebut bisa sedemikian tercemar, karena kaos kaki yang aku pakai kedalam ruangan, ohh, tidaaaaaaakkk.

Sampai juga akhirnya di Sate Kelapa Dharmawangsa, sampai disana entah Putri manja atau gimana, dia pura pura bingung, sehingga lupa tempat dimana Sate Kelapa itu biasanya mangkal, karena memang Sate Kelapa Dharmawangsa itu bukan restaurant tapi gerobak dorong yang tersedia juga tempat makan seperti meja dan kursi, tapi malam itu kami tidak beruntung untuk bisa menjumpainya, bingung mau kemana, akhirnya terjadi lagi konferensi pers dari calon ibu ibu yang kebetulan lagi duduk di seat belakang mobil, sehingga aku dan rampok tidak terlalu menghiraukan dan hanya berdehem sambil mendengarkan musik.

Lagi lagi Putri yang mengusulkan tempat, memang malam itu dia adalah Girl of the night, dia selalu mempunyai ide cemerlang, dia mengusulkan tempat yang memang belum pernah aku jamah sebelumnya, yaitu bebek dibelakangnya Trimurti, oke kita menuju kesana, dengan perasaan yang gembira dan tentunya penasaran akan rasa dari bebek yang dibilang enak itu, sampai disana kami langsung dikagetkan dengan sekumpulan orang yang dengan giras menyantap bebek, jadi teringat zombie yang sedang kegirangan ketika ada manusia didepannya, hmm ‘krauuk, krauuk’, sempat putus asa juga karena tidak menemukan tempat duduk untuk makan, tapi apa boleh buat waktu juga udah semakin malam, tahu sendiri kan Putri hanya punya waktu sampai jam 22.00 aja untuk bisa sampai dirumah, kalau lebih, siapa yang bertanggung jawab untuk mau dibedhil kepalanya sama Papa Putri, jadi mau tidak mau kami harus mencari tempat duduk sementara, yaitu ditempat duduk tukang parkir.

Akhirnya dapat juga tempat duduk setelah sekian lama menunggu ditempat parkir, kami makan dengan girasnya, dan aku lagi membayangkan kalau Putri adalah zombie yang sedang makan paha manusia, hmmm ‘krauuuk, krauuuk’, sebenarnya hanya makan malam saja sih yang membikin malam ini menjadi sweet, tapi anehnya lagi ketika aku keluarin kamera yang sudah aku anggap sebagai pacar sementara, yang setiap hari aku elus elus, aku kocok kocok aku puasin karena sudah aku bikinin rumah yang kedap udara dan hangat supaya dia tidak berjamur semua lensanya, Putri jadi semkain semangat dalam mengarungi malam yang sebentar akan lewat pada jam malamnya, seakan lupa dengan jam malam, Putri aku racun aja dengan sesi foto mendadak dengan perlengkapan seadanya, haha, ini sih sudah berlebihan, pengennya hanya makan malam, lah jadinya kelanjutan dengan sesi foto, sampai bikin dia lupa lagi dengan jam malamnya, sudah ini kesempatan yang mungkin tidak bisa datang dua kali, dan ini akan menjadi kisah yang menyakitkan, karena tahu sendiri aku akan sangat susah sekali dengan masa masa ini, dan tentunya ini akan menjadi akhir hidupmu karena saat mengantar Putri pulang kerumah Papa Putri sudah siap dengan Shotgun yang siap meledakkan kepalamu ziz, Dhuarrrrr!!!

Suasana Nasi Bebek belakang Trimurti

Sesi foto itu berakhir karena Karis dan Wanda yang mengingatkan Putri tentang jam malamnya, ah gak asik kalian, aku kan lagi temu kangen sama Putri kok kalian tega sih, sudahlah, berpikir positif mungkin lebih asyik daripada hanya berpikir jeleknya aja, akhirnya kami pulang menuju rumah Putri dengan hati yang gembira, karena sudah temu kangen dan juga ada kejadian yang bisa membuat flashback kisah SMP ini menjadi manis dan menyakitkan, entah dan aku tidak mau cerita di bagian mana saja yang manis dan menyakitkan itu.

Semoga saja ada kisah dengan Putri dkk yang lain ya, ini aku tulis karena kangen aja sama kalian,
see you in the next episode,